Halaman

Minggu, 03 Februari 2013

Grow, Hydrangeas, Grow!


Bunga Hydrangeaku yang the one and only akhirnya punya teman baru. Seneng banget deh. Akhir Januari kemarin aku beli dua pohon lagi, jadi sekarang total ada tiga, ditambah beberapa tunas-tunas kecil yang lagi tumbuh. 

Di Indonesia, bunga ini sering dikenal dengan sebutan bunga Panca Warna. No wonder.... Warnanya memang berubah-ubah, dari hijau muda, hijau kekuningan, biru, ungu, bahkan pink. Ada juga yang menyebutnya bunga Hortensia atau bunga Bokor. Nama latinnya adalah Hydrangea macrophylla. Kalau di Jepang, mereka menyebutnya bunga Ajisai. Yak, bunga ini konon memang berasal dari kawasan Asia Timur terutama Jepang. Tapi, jangan salah. Bunga ini sudah tersebar ke berbagai negara di dunia. Di Indonesia pun banyak dijumpai.

Dari beragamnya nama bagi bunga ini, aku sendiri lebih suka menyebutnya bunga Panca Warna atau Hydrangea. Panca Warna, karena terdengar lebih Indonesia. Hydrangea, terdengar indah dan keren. Tapi, agak susah juga nyebut Hydrangea dengan spelling bahasa Inggris. Hadeeh. 

Bunga ini baguuuuus banget, apalagi kalau pas udah mekar dan berubah warna. Bunga ini terdiri dari bunga-bunga kecil yang berkelompok membentuk seperti bulatan besar. Katanya, bunga ini adalah simbol persahabatan. No wonder sih.... Di acara kawinan, bunga ini juga sering dijumpai, baik sebagai dekorasi, maupun buket bagi mempelai wanita. Kece banget. Biutipul. 

Hydrangeaku yang paling gede, udah jadi biru

Menanam bunga ini di daerah cenderung berhawa panas seperti Kudus mungkin menjadi sebuah tantangan tersendiri. Bunga ini akan senang tumbuh di daerah sejuk tapi cukup matahari. Kalau di Indonesia, daerah Malang, Puncak, atau Dieng mungkin pas bagi tempat tinggal mereka. Tapi, bukan berarti bunga ini tidak bisa hidup di tempat panas. Aku menanam bunga ini juga bukan asal nekat. Aku cari referensi dulu dari berbagai sumber di internet. Mereka bilang Hydrangea bisa tumbuh di mana saja. Tapi, terhadap cuaca ekstrim, ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Kalau berada di daerah bersuhu panas, mungkin sebaiknya bunga ditanam di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung. Hydrangea tetap membutuhkan sinar matahari, khususnya matahari pagi. Jadi, tanam saja bunga ini di tempat yang cukup mendapatkan sinar matahari pagi, namun terlindung dari matahari siang.

Nah, mengatahui informasi itu, aku mencoba mempraktikkan. Awalnya, aku menanam bunga ini di dekat tembok pagar, karena menurutku terlindung dari angin. Aku menanamnya di bawah pohon rambutan, tujuannya agar tidak banyak terkena sinar matahari. Namun, setelah aku mengamati pergeseran matahari selama satu hari, aku menyadari bahwa tempat tanam Hydrangeaku belum pas. Di waktu pagi, bungaku tidak mendapatkan cukup sinar matahari. Sebaliknya, ketika siang lagi panas-panasnya, dia kena matahari yang menembus daun dan ranting-ranting rambutan. Akhirnya, aku pindahkan mereka ke tempat, yang menurutku lebih sesuai (masih di bawah pohon rambutan sih). Setelah kuamati, di tempat baru ini, dari pagi sampai jam 10-an lebih, Hydrangeaku bisa cukup mendapatkan sinar matahari. Dan, ketika siang hari, akibat pergeseran matahari, sinar yang menyengat tidak mengenai mereka secara langsung karena terlindung oleh dedaunan pohon. Keuntungan lainnya, di tempat baru ini bungaku dekat dengan kolam, jadi mungkin akan lebih sejuk kali yaaaa. hehehe.

Tempat lama. Mepet tembok

Di tempat baru (gak jauh dari tempat lama sih)

kolam ikan

Catatan lain. Sebaiknya tidak menanam bunga Hydrangea di dalam pot. Bunga ini akan tumbuh baik di tanah. Tanah tempat mereka hidup juga bisa menentukan warna bunga. Tanah yang bersifat asam akan menghasilkan bunga berwarna biru. Sebaliknya, tanah yang cenderung basa, akan menghasilkan bunga berwarna pink. Untuk bunga yang kutanam, mereka cenderung berwarna biru. Ada juga yang biru keunguan. Mungkin tanah kebunku bersifat netral cenderung asam kali yaaaa. Pengennya sih warna bunganya bisa deep blue gitu. hehehe. 

Sesuai namanya, bunga ini menyukai air. Poin ini juga menjadi hal yang sangat kuperhatikan. Aku gak boleh lupa menyiram, terlebih kalau cuaca lagi kering dan panas. Tapi, (kata mereka yang berpengalaman), tidak boleh berlebihan dalam mengairi Hydrangea. Kelebihan air justru bisa mengakibatkan akar mudah membusuk, kemudian merusak bunga itu sendiri. Nah, makanya, beberapa waktu lalu aku bikin sebuah inovasi. hehehe. Penyiram bunga otomatis. Aaah, dibilang otomatis pun kayaknya kurang pas, karena aku mesti masukin airnya sendiri. Tapi, dengan alat ini, air yang keluar tidak langsung banyak, melainkan drip by drip. Aku kasih lubang di botolnya kecil banget (pakai jarum pentul yang ujungnya dibakar dulu). Dengan mengisi setengah botol dengan air, alat ini bisa meneteskan air selama lima jam lebih. Tujuannya adalah untuk mempertahankan kelembaban tanah. Namun, setelah aku memindahkan bunga ini ke tempat baru, alat penyiram itu tidak kugunakan lagi. Alasannya, karena gak ada tempat buat gantungin itu. Hahaha. Yah, rajin-rajin ajah menyiramnya. Untungnya, sekarang masih musim hujan, jadi aku agak tertolong. Tanah kebun menjadi tidak kering.

Penyiram otomatis Poc*ri Swe*t

Oh ya. Saat ini, mungkin karena usianya yang masih muda dan sedang beradaptasi terhadap lingkungan baru, Hydrangeaku sering mengalami layu ketika siang. Sedih juga liatnyaaa. Tapi, untungnya, ketika mulai malam (ketika suhu udara menurun), mereka segar kembali. Mungkin, kalau sudah setahunan beradaptasi, mereka bakal terbiasa dengan lingkungan dan menjadi kuat. Harapanku sih, nantinya mereka akan rajin berbunga. Rencananya, aku masih ingin beli bunga ini lagi sampai agak banyak dan kelihatan indah di kebun. Karena, bunga kalau ditanam dalam jumlah banyak pasti akan bagus. Owyeah! :D

turning blue

Catatan tambahan:
Agak susah juga cari yang jualan Hydrangea di Kudus. Atau mungkin akunya ajah yang gak tau?? Hemm, I don't know. Aku beli bunga ini di Semarang, tepatnya di kawasan pedagang bunga di sekitar RS. dr. Kariadi. Deket kampusku. Lumayan. Hehehe. Harganya Rp. 22.500,- / pohon. Aku tawar jadi Rp. 20.000,- / pohon. Karena ukuran pohonnya lumayan gede, untuk membeli bunga ini, aku mesti ngepasin sama jadwal family kalo mau ke Semarang, jadi gampang bawa pulangnya. Gak perlu nenteng-nenteng di bis. Hehehehe. 

Senin, 28 Januari 2013

Hydrangea After The Rain



This morning, my newly planted Hydrangea macrophylla looks so fresh. It was a big relieve. Yesterday, rain didn't come, and it was hot in the afternoon. I'm worried since that cause my flowers wilted. Fortunately, right before the night comes, my Hydrangea gained its strength, and become fresh again. Last night, it rained. I guess my flowers liked it. Hehehe

Now, it's begin to turn into blue. Beautiful. <3 p="">

Jumat, 25 Januari 2013

Resep Selai Sirsak (Ala Tya)



Bahan:
-Daging buah sirsak dari setengah buah sirsak ukuran sedang
-Gula pasir 1 gelas belimbing
-Agar-agar bubuk warna merah 1 sdt
-Air perasan 1 buah jeruk
-Air matang secukupnya (aku pakai 1/2 gelas belimbing)

Cara membuat:
-Blender daging buah sirsak bersama air jeruk dan air matang
-Siapkan panci, masukkan jus sirsak, tambahkan gula pasir, kemudian masak dengan api kecil
-Aduk-aduk terus, jaga jangan sampai gula menjadi gosong (disarankan mengaduk pakai sendok kayu)
-Tambahkan agar bubuk, aduk terus sampai mengental dan bertekstur seperti selai
-Angkat, tiriskan, dan biarkan dingin

Tips: Pada waktu memasak, kayu manis bisa ditambahkan untuk memperkuat aroma.

Selamat mencoba. :D

Hari Gizi Nasional 2013

 

Gak banyak yang tahu tentang Hari Gizi Nasional. Termasuk aku, yang notabene (masih) jadi mahasiswa gizi, gak pernah ingat itu hari. Ternyata, hari ini sodara-sodara. 25 Januari. Mulai sekarang, bakal aku inget deh. Halah, paling tar lupa lagi. :P

Hemm.... Peringatan hari gizi.... Seberapa pentingkah?
Bagi para praktisi gizi, momen seperti ini bisa dimanfaatkan dengan cara misalnya mengadakan event-event yang bertujuan meningkatkan kesadaran gizi masyarakat, atau event kemanusiaan lain terutama kepada mereka yang memiliki atau terancam memiliki masalah gizi serius. 
Apa penting?
Tentu saja. Karena, gizi punya andil cukup besar dalam mendukung kesehatan, yang kemudian secara langsung dapat memperbaiki kualitas hidup kita. 

Yak.... Berangkat dari hal yang paling sederhana dulu deh. Dari diri kita sendiri. Mumpung masih muda, ayo deh jaga pola makan dan pola hidup kita. Ada banyak penyakit yang mengintai kita, terutama penyakit degeneratif yang bisa tercetus salah satunya akibat kebiasaan makan yang tidak benar. So, mari perhatikan apa yang kita makan. Perhatikan jenis, jumlah, dan waktunya. 

Yuk ah. Mari hidup sehat!

Sekali lagi. Selamat Hari Gizi Nasional. :D

NB: Gambar utama bukan hak milikku. Ada watermark pada gambar anak-anak. Artinya, itu gambar punya orang. Teks dari aku. 

Homemade Chicken Teriyaki


Ceritanya waktu itu gue habis dari Hypermart Kudus, beli bahan-bahan masakan (bahan kering). Yang gue inget, gue beli 2 sachet saus teriyaki, yang untuk selanjutnya akhirnya gue beli botolan juga. Terus gue beli apa lagi ya....? Lupa.

Besoknya, gue mau masak. Ada tuh daging ayam di kulkas, cuma belum difillet. Juga ada beberapa bahan lain. Waktu itu pas lagi gak punya bawang bombay. Udah deh, ke warung, beli dua. Masak deh, nasi ayam teriyaki. Ini masakan simpel juga. Gue gak ngikut resep orang. Asal aja. Hahaha.

Bahan (yang gue pakai):
-Daging ayam fillet, potong dadu. 
-Saus teriyaki secukupnya (waktu itu gue pakai 1 sachet)
-1 buah (siung) bawang Bombay, iris kasar
-Masih gue tambahin bawang putih kira-kira 2 siung (cincang halus), biar greget
-Jahe, dikit aja, memarkan
-Maizena, larutkan (pakai secukupnya)
-Nasi secukupnya (gue gak bilang beras lho)
-Garam secukupnya
-Merica bubuk secukupnya
-Gula secukupnya (dikit aja ding, tar manis)
-Minyak goreng secukupnya untuk menumis
-Air jeruk nipis dikit buat ngilangin amis si ayam
-Air matang secukupnya

Cara membuat:
-Tumis bawang bombay, bawang putih, dan jahe, sampai harum.
-Masukkan daging ayam, masak sambil diaduk-aduk
-Tambahkan garam, merica bubuk, gula, dan saus teriyaki
-Tambahkan air secukupnya, kemudian masak sampai bumbu meresap dan ayam matang
-Tambahkan larutan maizena secukupnya jika ingin lebih kental
-Angkat, tuang ke atas nasi dalam mangkuk 

Selamat menikmati! Hahahaha. 


Kamis, 24 Januari 2013

D.I.Y: A Glass Jar Wind Chime

Wind Chime (Jepang = Furin) atau yang kalau disini sering disebut 'klinthingan' bisa dikatakan sebagai penghias rumah yang memiliki nilai tersendiri, khususnya bagi aku. Dengan bantuan angin, benda ini dapat mengeluarkan suara yang khas dan indah. Jenis wind chime yang banyak dijual di Indonesia berbahan bambu, kayu, aluminium berbentuk tabung, Tapi, jarang ada yang seperti ini.



Dulu, jaman SMA, pas wisata ke Bali, aku pernah beli klinthingan. Bentuknya unik. Harganya juga lumayan murah waktu itu (dapet potongan toko 50%. hahaha). Bahannya dari plat aluminium (kayaknya lho) yang berbentuk tabung gitu. Suaranya bagus banget pas kena angin. Adem ayem rasane kalau denger. Dan, benda itu masih berfungsi sampe sekarang. Awet juga.


(oleh-oleh dari Bali)

Ceritanya sih.... Karena aku pengen juga wind chime yang dari kaca, aku coba cari-cari benda di rumah yang bisa kujadiin sasaran. Nemu deh, toples bekas tempat garam. Nah, eksekusi selanjutnya.... Tidak mudah sodara-sodara.

Yak. Sebelumnya biar kujelaskan dulu material yang kita butuhkan.

Bahan yang kugunakan:
-Toples kaca
-Bor (bukan bor untuk kaca sayangnya)
-Tang
-Paku
-Palu
-Lilin
-Korek api
-Batang besi (peralatan pertukangan, gak tau namanya)
-Amplas
-Tali kulit
-Bandul manik (nyomot dari gantungan kunci, dan bukan dari kaca)
-Kertas voucher internet
-Stiker polos
-Cat poster
-Kutek

Bahan yang sebetulnya kalian butuhkan: (Bedakan dengan yang di atas!)
-Toples kaca
-Bor khusus untuk kaca (diamond drill mereka bilang)
-Tali kulit
-Bandul (bagusnya dari bahan logam atau kaca)
-Pakai kertas voucher juga gapapa
-Cat akrilik atau apapun yang bisa nempel ke kaca

Cara membuat (versi aku):
-Bor bagian bawah toples tepat di bagian tengah. Waktu itu aku pake bor kayu punya bapak. Bornya gede gitu. Nakutin. Secara, aku gak pernah pegang bor, tanganku gemeteran pas ngebornya. Lama-lama mulai bisa teratasi. Tapi.... itu toples gak bisa-bisa dilubangi! Malah akunya yang ketakutan sendiri kalau kenapa-napa gegara bor itu. Akhirnya, di langkah pertama ini aku menyerah. Cerita akan berbeda kalau kalian pakai diamond drill.

-Untungnya aku kepikiran ide lain. Tapi, ini cukup nekat dan bodoh. Mana ada orang yang maku beling kalau bukan aku???? Kulakuin deh itu, gak berharap banyak. Kemungkinan buruknya, paling toples pecah. Yang lebih buruk lagi, mungkin aku bisa terluka. Untungnya kagak. Thanks God. Lama juga aku makunya, pelan-pelan, dikit-dikit. sampai akhirnya..... krek! Pecah sodara-sodara! Cara kedua ini tidak cukup efektif. (Kalian bisa skip langkah ini jika pakai diamond drill, atau jika kalian berhasil mengebor dengan benar tanpa pecah)

-Untungnya lagi, pecahannya kagak parah, jadi toples masih bisa dipake. Yang kulakukan selanjutnya adalah    mengikis dikit-dikit pinggiran bekas pecahan secara melingkar pakai tang kemudian permukaannya dihaluskan pakai amplas biar gak melukai jari, tangan, dsb. Gegara insiden pecah ini, bagian yang dilubangi (yang seharusnya di atas) jadi bagian bawah. Tutup toples secara gak terduga malah jadi berguna. Nah, tutup itu tak lubangi deh, pakai batang besi yang dipanasin. Heran.... Aku cewek kok mau-maunya nglakuin ini.

-Selanjutnya, kita warnai toples itu. Aku pakai cara bodoh. Aku 'nglukis' gambar bunga di atas stiker. Pas udah kering, stiker aku potong, terus tempel di toples. Tau-tau inget kalau punya kutek. Nah, pakailah itu buat tambahan warna. Hahahaha. Kalau pakai cat akrilik, hasilnya bisa lebih bagus lagi.

-Langkah selanjutnya, siapkan tali, kemudian ikat bandul yang posisinya disesuaikan dengan lubang toples. Cari bunyi yang paling oke dengan mengatur ketinggian bandul. Di bagian bawah, pasang kertas atau benda lain yang gampang diterbangkan angin. Gantung deh. Selesai.

Inilah penampakan wind chime 'sempat gagal' buatanku. Mirip kan, sama wind chime sungguhan? Hahaha. Ngawur.

    


Lumayan lah, buat pemula

NB: Wind chime ini dibuat sudah agak lama (Tahun 2012, lupa tanggal dan bulannya). Baru sekarang sempat dipost. Hehehe

Bebersih Blog


(gambar -you know lah-, nyomot dari Google)

Hahahaha. Entry gue habis gegara banyak yang gue delete!!!

Udah setahunan lebih gue kagak ngurusin ini blog. Ternyata, gue ninggalin banyak postingan galau nan alay. Gue jadi risih sendiri pas baca lagi. Ini gak bisa dibiarin! Makanya, mumpung sekarang tahun baru (kagak ada hubungannya). Tepatnya, mumpung gue inget dan pengen blogging lagi, gue bakal rombak total ini blog! Hahahaha. Mari, revitalisasi blog dan menghiasinya (halah) dengan entry-entry yang bener!! Ciao.  


[+/-]

Grow, Hydrangeas, Grow!

[+/-]

Hydrangea After The Rain

[+/-]

Resep Selai Sirsak (Ala Tya)

[+/-]

Hari Gizi Nasional 2013

[+/-]

Homemade Chicken Teriyaki

[+/-]

D.I.Y: A Glass Jar Wind Chime

[+/-]

Bebersih Blog